Chika Afrida
Kelas: 02
Nim: 15.E1.0144
Siapakah manusia itu? Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens, sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Namun secara kerohanian, manusia dianggap sebagai makhluk hidup yang memiliki hubungan dengan ketuhanan. Manusia sendiri sering disebut dengan makhluk rohani yang memiliki sifat yang beragam. Keberagaman sifat manusia ini yang menjadikan tolak ukur apakah manusia ini seseorang yang manusiawi atau tidak.
Lalu, apakah yang membuat manusia menjadi manusiawi? Manusiawi sendiri memiliki arti bersifat manusia. Kemanusiaan dapat menjadikan seseorang menjadi lebih manusia. Dengan kemanusiaan, kita dapat mengenali potensi diri sendiri yang akhirnya dapat kita kembangkan untuk kebaikan kita sendiri
.
Dimasa sekarang, perbedaan dapat menghilangkan sifat kemanusiaan dalam diri manusia sendiri. Termasuk dalam hal perbedaan keyakinan. Pandangan stereotip satu kelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya menjadi satu hal yang muncul bersamaan dengan terdengarnya genderang permusuhan, yang diikuti oleh upaya saling serang, saling membunuh, membakar rumah-rumah ibadah seteru masing-masing, dan sebagainya.
Sebagian kalangan berpendapat bahwa perbedaan konsep keagamaanlah yang menjadi sumber konflik utama antara umat manusia. Tidak dapat dimungkiri bahwa sejumlah teks keagamaan memang mengatur masalah kekerasan dan peperangan. Dalam tradisi Judeo-Christian, Yehweh –sebutan Tuhan dalam Bibel- digambarkan sebagai “God of War”, sebagaimana diterangkan dalam Mazmur 18: 40- 41.
Dalam Islam juga dikenal konsep jihad yang dalam sejumlah hal berarti qital (peperangan). Maka, sebagian pengamat melihat, agama adalah sumber konflik, atau setidaknya memberikan legitimasi terhadap berbagai konflik sosial.
Cara pandang terhadap agama dengan menempatkan agama sebagai sumber konflik, telah menimbulkan berbagai upaya menafsirkan kembali ajaran agama dan kemudian dicarikan titik temu pada level tertentu, dengan harapan konflik di antara umat manusia akan teredam jika faktor “kesamaan agama” itu didahulukan. Pada level eksoteris, seperti aspek syari’ah, agama-agama memang berbeda, tetapi pada level esoteris, semuanya sama saja. Semua agama kemudian dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju kepada Tuhan, termasuk Islam dan Kristen.
Semua ajaran agama pada dasarnya mengajak agar para pengikutnya senantiasa berbuat baik kepada sesama. Namun nyatanya tidak semua yang dianggap baik itu bisa bertemu dan seiring sejalan. Bahkan, sekali waktu dapat terjadi pertentangan antara yang satu dengan yang lain. Alasannya tentu bermacam-macam. Misalnya, tidak mesti yang dianggap baik itu benar. Juga, apa yang benar menurut manusia belum tentu dibenarkan oleh Tuhan dan alasan lain yang dapat dimunculkan.
Sebagai umat yang baik, tidak sepantasnya kita saling bersiteru satu dengan yang lain, dalam Islam, ada ayat yang mengajarkan tentang toleransi antar umat beragama.
Surat Al-Hujarat ayat 11
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang di perolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-ngolok. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mengolok-ngolokkan perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari pada perempuan yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa kita tidak sepatutnya mengolok-olok atau mencela orang lain. Mungkin saja seseorang yang kita cela tidak lebih buruk dari kita. Lebih baik kita instropeksi diri kita sendiri agar kedepannya kita lebih baik lagi.
Kelas: 02
Nim: 15.E1.0144
Siapakah manusia itu? Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens, sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Namun secara kerohanian, manusia dianggap sebagai makhluk hidup yang memiliki hubungan dengan ketuhanan. Manusia sendiri sering disebut dengan makhluk rohani yang memiliki sifat yang beragam. Keberagaman sifat manusia ini yang menjadikan tolak ukur apakah manusia ini seseorang yang manusiawi atau tidak.
Lalu, apakah yang membuat manusia menjadi manusiawi? Manusiawi sendiri memiliki arti bersifat manusia. Kemanusiaan dapat menjadikan seseorang menjadi lebih manusia. Dengan kemanusiaan, kita dapat mengenali potensi diri sendiri yang akhirnya dapat kita kembangkan untuk kebaikan kita sendiri
.
Dimasa sekarang, perbedaan dapat menghilangkan sifat kemanusiaan dalam diri manusia sendiri. Termasuk dalam hal perbedaan keyakinan. Pandangan stereotip satu kelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya menjadi satu hal yang muncul bersamaan dengan terdengarnya genderang permusuhan, yang diikuti oleh upaya saling serang, saling membunuh, membakar rumah-rumah ibadah seteru masing-masing, dan sebagainya.
Sebagian kalangan berpendapat bahwa perbedaan konsep keagamaanlah yang menjadi sumber konflik utama antara umat manusia. Tidak dapat dimungkiri bahwa sejumlah teks keagamaan memang mengatur masalah kekerasan dan peperangan. Dalam tradisi Judeo-Christian, Yehweh –sebutan Tuhan dalam Bibel- digambarkan sebagai “God of War”, sebagaimana diterangkan dalam Mazmur 18: 40- 41.
Dalam Islam juga dikenal konsep jihad yang dalam sejumlah hal berarti qital (peperangan). Maka, sebagian pengamat melihat, agama adalah sumber konflik, atau setidaknya memberikan legitimasi terhadap berbagai konflik sosial.
Cara pandang terhadap agama dengan menempatkan agama sebagai sumber konflik, telah menimbulkan berbagai upaya menafsirkan kembali ajaran agama dan kemudian dicarikan titik temu pada level tertentu, dengan harapan konflik di antara umat manusia akan teredam jika faktor “kesamaan agama” itu didahulukan. Pada level eksoteris, seperti aspek syari’ah, agama-agama memang berbeda, tetapi pada level esoteris, semuanya sama saja. Semua agama kemudian dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju kepada Tuhan, termasuk Islam dan Kristen.
Semua ajaran agama pada dasarnya mengajak agar para pengikutnya senantiasa berbuat baik kepada sesama. Namun nyatanya tidak semua yang dianggap baik itu bisa bertemu dan seiring sejalan. Bahkan, sekali waktu dapat terjadi pertentangan antara yang satu dengan yang lain. Alasannya tentu bermacam-macam. Misalnya, tidak mesti yang dianggap baik itu benar. Juga, apa yang benar menurut manusia belum tentu dibenarkan oleh Tuhan dan alasan lain yang dapat dimunculkan.
Sebagai umat yang baik, tidak sepantasnya kita saling bersiteru satu dengan yang lain, dalam Islam, ada ayat yang mengajarkan tentang toleransi antar umat beragama.
Surat Al-Hujarat ayat 11
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang di perolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-ngolok. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mengolok-ngolokkan perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari pada perempuan yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa kita tidak sepatutnya mengolok-olok atau mencela orang lain. Mungkin saja seseorang yang kita cela tidak lebih buruk dari kita. Lebih baik kita instropeksi diri kita sendiri agar kedepannya kita lebih baik lagi.
Saya setuju dengan chika, kita sebagai sesama manusia dilarang menghina manusia lainnya karena kita sesama manusia ini adalah saudara. Artikel yang sangat bermanfaat.
BalasHapusSaya setuju dengan tulisan chika yang menginspirasi dan smoga tulisan ini membawa perdamaian bagi semua orang. God bless :)
BalasHapusSaya setuju dengan Chika. Kita harus menghormati setiap orang dalam hal apapun, sudah selayaknya kita hidup berdampingan dengan damai.
BalasHapusArtikel yang sangat bermanfaat. Memang sebagai umat beragama yang baik tidak selayaknya kita harus saling bersiteru dan bertoleransi antar umat beragama lain.
BalasHapusArtikel yang sangat bermanfaat dan menginspirasi. Thankyou. Godbless
BalasHapusIya didalam dunia ini setiap manusia tidak sama. Mereka yang kembarpun pasti memiliki keunikan sendiri. Apalagi agama / kepercayaan tiap orang. Mereka menganutnya karena telah mempercayainya. Jadi jika kita bisa hidup berdampingan walaupun beda dan damai. Kenapa tidak? Karena perselisihan pun tidak akan menyelesaikan masalah. Artikel yang bermanfaat.
BalasHapussaya setuju dengan artikel ini. sangat bermanfaat. sebagai umat beragama tentunya kita harus menjaga persaudaraan antar sesama manusia.
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat dan menginspirasi
BalasHapusKita seharusnya saling menghormati satu sama lain
Saya setuju dengan pendapat yg saudara Chika katakan, alangkah lebih baik jika kita hidup saling berdampingan serta dapat saling menghargai. Sungguh artikel yg sangat inspiratif!
BalasHapusArtikel yang ditulis oleh saudara Chika Afrida membuka wawasan kita sebagai umat manusia untuk saling menghargai perbedaan karena Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika
BalasHapusArtikel yang ditulis oleh saudara Chika Afrida membuka wawasan kita sebagai umat manusia untuk saling menghargai perbedaan karena Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika
BalasHapusArtikel nya bagus,,, terus berkarya ya chikaa :D
BalasHapusbenar kita sepatutnya jangan mengolok olok orang lain
BalasHapusInstropeksi diri sendiri dan tidak mengolok olok orang lain, artikel ini sangat bermakna semoga berguna bagi orang lain dan dapat diterapkan di kehidupan
BalasHapusnice artikel.. kita harus menghormati dan menghargai orang lain
BalasHapusmanusia sebagai makluk sosial, kita harus saling membantu dan menolong , tidak saling bermusuhan
BalasHapusMembantu sekali artikelnya. Thanks Chika.
BalasHapusArtikel ini sangat membantu . Menginspirasi untuk lebih baik kedepannya . Terimakasihhhh ^^ semoga terealisasi Ya . GBu^^
BalasHapussaya sangat bersependapat sama dengan artikel anda, dimana memang kenyataannya, agama bukan sutu momok untuk menghalangi tali persaudaraan, namun sebagai alat terbentuknya hubungan kekeluargaan
BalasHapusNice articlee. Menginspirasi utk kedepannya. Gbu:)
BalasHapusnice article :)
BalasHapusDg kita berbeda, itu bukan untuk saling menghina. Tp dg perbedaan itu merupakan saling melengkapi
BalasHapusbener bgt. semua agama mengajak kita utk berbuat baik. maka, sebaiknya juga kita mengaplikasikan ajaran itu di kehidupan kita sebagai manusia utk senantiasa bersikap toleransi kepada semua umat
BalasHapusartikel yg bagus chika khususnya buat ank2 mudaa
BalasHapusartikenya bagus, semoga bermanfaat buat kita semua. terus berkarya ok.
BalasHapusArtikel yang bagus
BalasHapustus berkarya
menghormati sesama agama itu yg seharusnya kita terapkan. Good article
BalasHapusCukup lumayan tapi perlu diperbaiki bahwa manusia dulunya diciptakan langsung dari allah dan manusia sendiri diciptakan dari tanah dan istrinya hawa diciptakan dari tulang rusuk nabi adam sebenarnya teori charles darwin sendiri bertentatangan oleh agama islam dan tidak rasional coba bayangankan masak nabi" kita adalah manusia purba?coba difikir ulang ttg teori tersebut
BalasHapusMemang si kita sebagai umat bergama yang mempunyai banyak agama di negara kita , namun kenapa setiap ada orang muslim hidup di tengah"kehidupan non muslim hidupnya merasa terancam atau tak nyaman?sedangkan org non muslm yg hidup ditengah" org islam hidup mereka merasa tentram dan aman? Sebernernya siapa yang salah ?
" Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.
(Q.S Al Mumtahanah: 8 dan 9) "
waallahuam
Jika ada yang salah mohon dibernarakan sesungguhnya manusia ialah tempatnya salah dan lupa
Artikelnya bagus semoga bermanfaat bagi pembaca.teruslah berkarya untuk mendukung adanya perdamaian disekitar kita
BalasHapusArtikelnya bagus semoga bermanfaat bagi pembaca.teruslah berkarya untuk mendukung adanya perdamaian disekitar kita
BalasHapusArtikel yang menambah wawasan, sangat baik. Terus menulis ya.
BalasHapusartikel yg membuat kita sadar betapa pentingnya mencintai keluarga
BalasHapusblognya bermanfaat banget buat kita semua . keren! <3
BalasHapusnice writing, keep going.
BalasHapusgood post.... semoga ini dapat menjadi pedoman bagi kita semua yaa... ku tnggu post mu selanjutnya GBU
BalasHapuspost anda sangat bagus dan menginspirasi. terus berkayarya. gbu;)
BalasHapusArtikelnya sangat bagus, trs berkarya ya;)
BalasHapusArtikel yang baik dan menambah ilmu .
BalasHapusartikelnya bagus, toleransi antar manusia itu sangatlah penting. :)
BalasHapusSemoga kita sadar akan peran kita sebagai manusia individu tetapi di satu sisi juga manusia sosial. Amin
BalasHapusArtikel yang super sekali
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusGood artikel chika
BalasHapusartikel yg bagus semoga bermanfaat
BalasHapusArtikelmya bermanfaat, terus berkarya yaaaa
BalasHapus