Minggu, 13 Desember 2015

Berbagi Ilmu

Berbagi memang tidak harus melalui harta. Berbagi terhadap sesama dapat diwujudkan dengan tenaga, maupun ilmu yang kita punya. Tidak hanya agama Islam, agama yang lain pun pasti menganjurkan hambanya untuk berbagi dengan sesamanya.

Berbagi dengan tenaga dapat beruba ikut kerja bakti membersihkan Masjid, Gereja, atau Vihara. Gotong royong membersihkan lingkungan sekitar juga termasuk dalam berbagi dalam wujud tenaga.
Sedangkan berbagi dalam ilmu dapat berupa mengajarkan apa yang kita tau kepada yang membutuhkan. Dalam proyek kebaikan yang lalu, saya beserta teman-teman saya mengajar mengaji di masjid yang berada di daerah Pentul. Meskipun saya sendiri tidak terlalu fasih dalam mengaji, bahkan belum khatam Al-Qur’an, setidaknya saya mengerti dan paham. Sehingga saya dapat berbagi dengan adik-adik yang ada disana.

Kegiatan dimulai setelah Ashar, sekitar pukul 3 sore dan selesai pukul 5 sore. Selama disana, saya mengkoreksi adik-adik yang maju bergiliran untuk mengaji. Kebanyakan dari mereka memang sudah fasih dalam mengaji. Padahal kebanyakan dari mereka masih duduk di bangku kelas 3 SD. Di masjid tersebut juga ada siswa mengaji yang sudah duduk di bangku SMP maupun SMA. Tapi kelas mereka terpisah. Dan buku yang mereka pakai juga berbeda. Jika adik-adik SD menggunakan buku mengaji seperti Juz Amma, sedangkan Adik-adik yang sudah SMP atau SMA sudah mulai menggunakan Al-Qur’an.

Dalam H.R Abu Nu’aim mengatakan:
Allah tidak memberikan Ilmu kepada orang alim, melainkan ia telah mengambil perjanjian atas nabi-nabi-Nya agar mereka memberi keterangan kepada manusia dan supaya mereka tidak menyembunyikannya.


Dalan Hadist diatas dijelaskan bahwa Allah memerintahkan agar umatnya tidak menyembunyikan ilmu yang mereka punya. Melainkan membaginya kepada sesama. Sehinggga ilmu yang kita miliki dapat berguna bagi semua orang. 

Jumat, 30 Oktober 2015

Let's Love Our Parent.

Chika Afrida
15.E1.0144

Orang tua adalah orang yang telah merawat kita sejak kecil hingga kita besar. Terutama Ibu kita, beliau rela mengandung kita selama Sembilan bulan dalam perutnya, dan saat melahirkan, beliau bertaruh nyawa demi kita. Sedangkan ayah kita? Ayah kita bekerja dari pagi hingga malam untuk membiayai segala yang kita butuhkan, mulai dari sandang, papan, hingga pangan kita. Namun, sudahkah kita membalas seluruh jasa orang tua kita? Karena pada dasarnya, sekeraas apapun usaha kita untuk membalas jasa orang tua kita, kita tidak akan sanggup untuk membalasnya.

Pada kesempatan yang lalu, saya bersama ketiga teman saya yang lain diberi kesempatan untuk mengunjungi Panti Jompo Rindang Asih 2 yang ada di Sampangan Semarang. Berkunjung ke Panti sendiri merupakan hal yang baru dan pertama kali bagi saya. 



Kami tiba disana kira-kira pukul 10.00 WIB. Kami meminta ijin terlebih dahulu kepada perawat disana. Sekitar satu jam kami berada disana, saya sendiri merasa senang karena mampu mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupan mereka. Kebanyakan dari mereka, menceritakan tentang mengapa mereka bisa berada disini, senang tidak mereka berda disini, apakah mereka merasa betah berada disini, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka jujur merasa tidak betah karena mereka sebenarnya lebih suka tinggal bersama keluarga mereka sendiri daripada harus berada di Panti Jompo itu sendiri. Sebagian dari mereka juga banyak yang dititipkan tetapi tidak pernah dijenguk lagi oleh keluarga mereka sendiri.

Namun ada pula dari mereka yang hanya dititipkan untuk beberapa hari saja. Diantara para oma dan opa disana, juga ada yang merasa senang disana, karena dengan berada disana, mereka tidak lagi merasa kesepian, mereka memiliki teman untuk tertawa serta berbagi cerita. 


Saya sendiri sempat berkenalan dengan seorang opa yang bernama Pak Rosman. Pak Rosman ini berasal dari Jakarta. Beliau dipanti tersebut sudah sekitar satu tahun. Beliau dititipkan oleh anaknya karena anaknya akan melanjutkan kuliah disebuah Universitas. Pak Rosman banyak mesaehati saya bahwa saya harus rajin belajar agar mendapat nilai yang bagus.

Setelah berbincang banyak, kami berusaha menghibur para oma dan opa dengan bernyanyi dan menari  bersama, banyak dari mereka yang tertawa senang karena mereka tidak merasa kesepian

Dengan mengunjungi Panti Jompo, membuat saya mengingat bahwa tidak seharusnya kita mensia-siakan orang tua, terutama ibu kita yang telah melahirkan kita dengan bertaruh nyawa dan seluruh jiwa maupun raga. Serta ayah yang telah bekerja dari pagi hingga malam untuk membiayai kebutuhan kita.

Bukankah dalam seluruh ajaran agama menganjurkan kita agar menyayangi orang tua kita sendiri? Karena dalam Islam menngatakan bahwa “Ridha orang tua adalah Ridha Allah”. Serta "murka orang tua adalah murka Allah."


Lalu dalam surat An-Nisa ayat 36 dijelaskan bahwa:


"Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Berbuat baik lah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya, Alloh tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri." (QS An-Nisa: 36)

Kita sebagai anak seharusnya lebih menyayangi dan mengasihi orang tua kita. Kita harus bersedia mengasuh orang tua kita sendiri saat tua nanti sesibuk apapun diri kita. Jangan sampai kita lupa akan jasa dan seluruh waktu yang telah diberikan orang tua kita saat kita kecil. 

Rabu, 28 Oktober 2015

Be Human

Chika Afrida 
Kelas: 02
Nim: 15.E1.0144


Siapakah manusia itu? Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens, sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Namun secara kerohanian, manusia dianggap sebagai makhluk hidup yang memiliki hubungan dengan ketuhanan. Manusia sendiri sering disebut dengan makhluk rohani yang memiliki sifat yang beragam. Keberagaman sifat manusia ini yang menjadikan tolak ukur apakah manusia ini seseorang yang manusiawi atau tidak.

Lalu, apakah yang membuat manusia menjadi manusiawi? Manusiawi sendiri memiliki arti bersifat manusia. Kemanusiaan dapat menjadikan seseorang menjadi lebih manusia. Dengan kemanusiaan, kita dapat mengenali potensi diri sendiri yang akhirnya dapat kita kembangkan untuk kebaikan kita sendiri
.
Dimasa sekarang, perbedaan dapat menghilangkan sifat kemanusiaan dalam diri manusia sendiri. Termasuk dalam hal perbedaan keyakinan. Pandangan stereotip satu kelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya menjadi satu hal yang muncul bersamaan dengan terdengarnya genderang permusuhan, yang diikuti oleh upaya saling serang, saling membunuh, membakar rumah-rumah ibadah seteru masing-masing, dan sebagainya.

Sebagian kalangan berpendapat bahwa perbedaan konsep keagamaanlah yang menjadi sumber konflik utama antara umat manusia. Tidak dapat dimungkiri bahwa sejumlah teks  keagamaan memang mengatur masalah kekerasan dan peperangan. Dalam tradisi Judeo-Christian, Yehweh –sebutan Tuhan dalam Bibel- digambarkan sebagai “God of War”, sebagaimana diterangkan dalam Mazmur 18: 40- 41.

Dalam Islam juga dikenal konsep jihad yang dalam sejumlah hal berarti qital (peperangan). Maka, sebagian pengamat melihat, agama adalah  sumber konflik, atau setidaknya memberikan legitimasi terhadap berbagai konflik sosial.

Cara pandang terhadap agama dengan menempatkan agama sebagai sumber konflik, telah menimbulkan berbagai upaya menafsirkan kembali ajaran agama dan kemudian dicarikan titik temu pada level tertentu, dengan harapan konflik di antara umat manusia akan teredam jika faktor “kesamaan agama” itu didahulukan. Pada level eksoteris, seperti aspek syari’ah, agama-agama memang berbeda, tetapi pada level esoteris, semuanya sama saja. Semua agama kemudian dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju kepada Tuhan, termasuk Islam dan Kristen.

Semua ajaran agama pada dasarnya mengajak agar para pengikutnya senantiasa berbuat baik kepada sesama. Na­­­mun nyatanya tidak semua yang di­anggap baik itu bisa bertemu dan se­iring sejalan. Bahkan, sekali waktu da­pat terjadi pertentangan antara yang sa­­­­tu dengan yang lain. Alasannya tentu ber­­ma­cam-macam. Misalnya, tidak mes­ti yang dianggap baik itu benar. Juga, a­pa yang benar menurut manusia belum tentu dibenarkan oleh Tuhan dan alasan lain  yang dapat dimuncul­kan.
Sebagai umat yang baik, tidak sepantasnya kita saling bersiteru satu dengan yang lain, dalam Islam, ada ayat yang mengajarkan tentang toleransi antar umat beragama.

Surat Al-Hujarat ayat 11
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang di perolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-ngolok. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mengolok-ngolokkan perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari pada perempuan yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa kita tidak sepatutnya mengolok-olok atau mencela orang lain. Mungkin saja seseorang yang kita cela tidak lebih buruk dari kita. Lebih baik kita instropeksi diri kita sendiri agar kedepannya kita lebih baik lagi.